Minggu, 18 Oktober 2015

Pendidikan dan Kita

Perubahan kehidupan yang signifikan kembali terjadi pada abad ke-20, baik magnitudo maupun ragamnya. Perubahan itu didorong oleh kondisi sosio-ekonomi abad ke-19, yang melahirkan revolusi industri, suatu revolusi yang memacu dan memicu laju teknologi, ilmu pengetahuan, dan sosial-budaya.
Episode ini memerlukan tenaga terampil, cerdas, dan terdidik. Pada abad ke-20, kebudayaan dunia tidak hanya merambah jagat renik dan menemukan material baru sebagai soko guru perubahan, tetapi juga melahirkan aksi penjelajahan alam tiga dimensi, sebagai perluasan upaya dua-dimensional Barat menguasai wilayah baru. Tumbuhlah etika dan gairah ilmu pengetahuan dengan metode hipotetik-bukti yang mendikte corak pengembaran jiwa ingin tahu.
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya mengait satu dengan yang lain membentuk ekologi kependidikan dan kesadaran berkomunikasi, bernegara dan berbangsa. Walaupun negara-negara masih tersekat batasan  tradisional, tanpa sadar muncul sekat baru tepian teknologi dan sains.
Penyekatan itu menumbuhkan cita rasa kebangunan baru karena identitas kelas baru sebagai warga yang berpengetahuan. Kehormatan itu tidak datang sendiri, tetapi harus digapai dengan sistematis melalui penguasaan ilmu pengetahuan, bersama jiwa  inovasi teknologi dan penciptaan budaya pendidikan.
Adalah entitas bangsa seperti itu yang akan tegak sebagai mercu suar kehidupan abad ke-21 berkarakter penangkal keluruhan budaya bangsa.
Bekal diri
Terngiang seruan Pangeran Mangkubumi, beberapa abad lalu, tatkala ingin membangun ketahanan budaya “Jawa” (terhadap serangan asing) harus membekali diri  dengan “wijayanti”- murih bisa unggul lan muncul, dengan kekuatan akal, agar bisa unggul dan bertahan (Ismadi,  Panyebar Semangat, 30 Mei 2015).
Tahun 1947 Soekarno dan beberapa tokoh NKRI di tengah panasnya perjuangan fisik mengumandangkan pentingnya pendidikan keilmuan dan teknologi untuk mendudukkan bangsa Indonesia pada kasta terhormat di antara bangsa-bangsa dunia (Lindsay dan Liem, 2011). Negara bangsa Indonesia harus memancarkan kemaslahatan, yang menjadi mercu suar  pembangunan dan persaudaraan.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berguna untuk membangun mazhab ekonomi bersandar-keilmuan. Peradaban zaman meminta pembangunan negara mengelus ekonomi pembangunan berkelanjutan. Tokoh pendidikan Tilaar (2011) menyuarakan sikap progresif Indonesia agar tidak mengisolasi diri dari dunia yang bergerak cepat, terdorong oleh kemajuan teknologi dan komunikasi.
Abad ke-20 telah memunculkan perang global yang meminta korban 43 juta manusia, tetapi bersamaan dengan itu lahir pula kelompok bangsa dalam ranah-pinggiran perang dingin yang sangat menghantui kemanusiaan. Abad ke-21 gambar masa depan kemanusiaan berdimensi lain, begitu pula matrik sosial dan cara penanganannya.
Kesalahan dan teror dalam mengelola perlombaan persenjataan nuklir dapat mengancam perjalanan bangsa di setiap kelok peradaban. Ancaman ledakan nuklir, penghasil energi pemusnah, harus diwaspadai.
Begitu pula bahaya lain yang berkembang dari dalam laboratorium ilmu pengetahuan muncul. Mulai dari kekeliruan pemanfaatan bioteknologi (sering disebut bio-error) sampai kepada  perusakan lingkungan karena tidak terkontrolnya virus buatan (bio-terror), penyakit jenis baru, mewabahnya penyakit endemik bahkan ancaman karsinogenik pada makanan dan udara, serta dosis radiasi rendah yang menggelombang di mana-mana.
Ancaman alami bisa datang dari gesekan lempeng benua maupun dari daya terkungkung dalam sembur dan ledak gunung api. Indonesia rentan, tetapi  hidup bersama dengan ancaman ini. Untuk menghadapinya, visi mitigasi yang profetik perlu dipijah agar dapat ikut menyediakan prasarana tepat guna saat ancaman muncul.
Melalui pendidikan ilmu kealaman dan ilmu dasar proses mekanistik alam yang mengitari kita dapat diendus. Bersamaan dengan itu, tumbuh pikiran afektif mendekatkan tingkah laku manusia dengan ekologi alami.
Ulah manusia
Selimut Bumi, atmosfer, bukan hakikat yang panggah. Selain faktor luar  dapat mengubahnya, ulah manusia sendiri ikut memberi aksen pemanasan angkasa Bumi yang dapat berakibat lanjut kepada perusakan lingkungan.
Ilmu pengetahuan sampai kepada kesimpulan (Hautier dkk, April 2015) bahwa perubahan lingkungan antropogenik memengaruhi kestabilan ekosistem dan berdampak pada keragaman hayati. Tanpa kita sadari, keragaman hayati ini kadang terusik oleh kebutuhan manusia yang tak terkontrol. Padahal, kita harus ikut menjaga Bumi.
Apakah makna semua itu? Peta dunia tidak lagi tergambar dengan sekat ideologi saja. Tetapi, secara virtual dirasakan  batas teknologi dan saintifik. Hampir semua bangsa lalu mendekatkan diri kepada  penguasa pasar global, yang beratribut penguasaan teknologi dan inovasi.
Mereka yang tidak dapat meraihnya harus rela tergeser ke pinggiran dan tertinggal. Barangkali tidak lebih dari setengah penduduk Planet Bumi ini yang dapat mengemban hasil pembaruan teknologi ke dalam kaidah kemanfaatan kelompoknya.
Sisanya bukan hanya tidak ikut menikmati perolehan abad ke-21, tetapi tertinggal dalam rongga paria abad ke-21 karena tuna-kemampuan. Torehan aib, kalau tidak lekas disembuhkan akan  bermetastase memasuki organ kelompok. Kita harus menyediakan agenda kerja kemajuan mulai dari titik ini agar kekayaan kita dapat bermanfaat bagi bangsa.
Kebangunan dan citra bangsa akan terlihat jika kita ikut memoles peradaban dengan sumbangan karya, pikiran, dan keagungan pikir. Hidup berkebangsaan di masa depan adalah tatanan dengan resep ekonomi dan sosial sandar-pengetahuan. Bangsa berdaya cipta, mandiri, dan kritis tanpa meninggalkan tanggung jawab pembongkaran kemiskinan.
Berdaya cipta adalah menggenggam pengertian dapat menghasilkan karsa-cipta asli dan khas berguna  untuk penyelenggaraan hidup terhormat. Penerjemahannya ke dalam agenda pendidikan ialah membangkitkan strata anak bangsa yang mampu berpikir berangkai, menyediakan berbagai pilihan khas, dan memilah yang paling tepat untuk bangsanya.
Hal ini harus tampak pada aras pendidikan yang menyediakan modul generik untuk menaut akal dan etika.
Efisiensi sumber daya
Pendayagunaan efisien sumber alami bukan eufimisme, tetapi memang dikedepankan bersama segenggam etika lingkungan hidup. Sederet falsafah dan kebijakan tradisional telah ikut mewarnai tindak kehidupan kita dan terangkum dalam budaya bangsa.
Jangan sampai  budaya asing, yang kurang empati terhadap kehidupan lingkungan, mencabut akar kebaikan itu. Nurani dan akal sehat harus menjadi ciri pendidikan dalam abad yang menggusur  batasan geografi ini.
Paradigma pendidikan adalah pengalihan cara berpikir linier menjadi alur jamak, menuruti rute keanekaan ragam sains yang bertali-temali. Di samping itu, masyarakat jamak secara kultural dan kepercayaan harus direngkuh sebagai kekayaan.
Pandangan kita terpumpun ikut mengisi kesehatan ranah sosial masyarakat seperti itu dan membuat ilmu tidak tersisih dari aras pengambilan kebijakan. Ini bukan soal berguna atau tak berguna, tetapi lebih mengacu pada pemberdayaan kemampuan.
Beberapa agenda pendidikan hendaknya digerakkan tidak sekuensial, tetapi sinergitik bersamaan. Menautkan proses pendidikan dengan lingkungan alami  merupakan ambeg parama arta di samping penyediaan warga muda memperoleh pendidikan yang transformatif.
Tentu saja merupakan kewajiban luhur pemerintah, dan masyarakat, mengisi elemen pedagogi, menyusun tertib didaktik, dan taat metodologi yang membawa pendidik dan peserta-didik membangun keinginan tahu.

 pdk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar